Selasa, 19 April 2011

Sejarah Kecil Tanah Kelahiranku di Ciamis "KARANGKAMAL"

Desa Cieurih merupakan desa yang berada di wilayah kecamatan Cipaku, Ciamis, Jawa Barat. Apabila memakai kendaraan bermotor, desa ini bisa ditempuh dengan satu jam perjalanan dari alun-alun Ciamis. Cieurih merupakan desa tempat tinggal ayah saya sejak kecil bahkan hingga saya berumur lima tahun, sebelum merantau ke Yogyakarta. Cieurih merupakan desa yang aman, tentram dan damai. Bahkan suasana pedesaannya masih terasa sampai sekarang. Desa kecil tersebut memiliki tempat bersejarah yang sangat berarti bagi para penduduknya yaitu “karang kamal”. Namun tidak semua orang yang tinggal di Cieurih mengetahui sejarah dari tempat yang bernama “karang kamal” tersebut. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui sejarah mengenai “karang kamal” yang merupakan makam leluhur mereka yang biasa mereka sebut dengan “kakek buyut cieurih”.
 “Karang kamal” terletak kurang lebih 600 meter dari desa Cieurih kearah timur. Bila digambarkan, tempat tersebut seperti hutan yang dikelilingi oleh pohon-pohon yang tua dan lebat berumur ratusan tahun. Dan dipinggir hutan tersebut terdapat  sungai yang dinamai dengan sungai cikembang. Di karang kamal tersebut terdapat makam kakek buyut cieurih yang dijaga dengan baik oleh para penduduknya.
“Kakek buyut cieurih” yang dimakamkan di karang kamal bernama Syekh Haji Komarulloh Komarudin. Ibunya bernama Raden Dewi Hajah Fatimah dan eyangnya bernama Eyang Jaya Wisesa yang merupakan keturunan dari cirebon. Makam kakek buyut cieurih sering digunakan sebagai tempat orang yang mencari berkah. Menurut penjaga makam, jika ada orang yang ingin berziarah dianjurkan pada hari senin atau kamis dan jika malam maka malam senin dan malam kamis. Hal tersebut merupakan syarat yang berlaku dan tanpa diketahui apa penyebabnya.
Menurut sejarahnya, karang kamal merupakan tempat yang digunakan oleh para wali dan Syekh Haji Komarulloh Komarudin sebagai tempat persinggahan. Mereka singgah di tempat ini adalah untuk menyebarkan ajaran islam dilingkungan Cieurih pada masa penjajahan Belanda. Mereka singgah dan menyebarkan agama di Cieurih sampai akhir hayatnya, namun di dalam karang kamal tersebut hanya terdapat satu makam dan makam dari para wali tidak diketahui keberadaannya. Mereka meninggalkan beberapa pusaka diantaranya pedang, keris, tombak, al-Qur’an dan buku babad cirebon. Namun yang tersisa sekarang hanyalah kerisnya saja dan pusaka yang lainnya hilang entah kemana.
Keris yang merupakan peninggalan para wali yang menyebarkan agama islam di desa Cieurih dijaga dengan baik oleh penjaga makam. Dan sekarang keris tersebut disimpan di kuncen. Setiap bulan dzulhijjah dan rabiul awal keris tersebut selalu dimandikan di dalam karang kamal  yang tempatnya agak menjorok ke sungai cikembang oleh penjaga makam. Penjaga makam mendapat jasa dari perawatan karang kamal yang didapat dari penduduk ketika ada pemandian keris dengan cara mengelar kain kafan yang nantinya akan dilemparkan uang oleh penduduk yang menyaksikan pencucian keris tersebut.
Tempat persinggahan atau penginapan para wali tersebut diberi nama karang kamal oleh penduduk setempat karena merupakan tempat yang kehilangan pusakanya. Menurut bahasa sunda, karang adalah pekarangan dan kamal adalah hilang entah kemana. Jadi penduduk tersebut menamakan tempat itu sebagai karang kamal karena alasan tersebut.
Saya mendapatkan cerita mengenai karang kamal tersebut dari bibi saya yang bernama Irma Nurmalasari. Dia mengetahui cerita tersebut dari Eyangnya yang juga Uyut saya yang bernama Hajjah Iwin dan dari ibunya yang bernama Uum. Cerita ini sangat menarik bagi saya karena walaupun saya tidak bertempat tinggal di desa Cieurih namun saya lahir disana dan tak ada alasan bagi saya untuk tidak mengetahui sejarah mengenai tempat yang bersejarah dan berharga bagi penduduk Cieurih.

Ryana Andryana
09/288822/SP/23780
Jurusan Politik dan Pemerintahan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada

6 komentar:

  1. Hatur nuhun neng sudah posting sejarah leluhur Karang Kamal. Bangga punya sejarah

    BalasHapus
  2. Hatur nuhun neng sudah posting sejarah leluhur Karang Kamal. Bangga punya sejarah

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Punten bade tumaros, Maksadna Eyang Hj. Iwin nu mana nya?

    BalasHapus
  5. Pami Hj. Iwin mah namanya Eyang Erot, mun Uum mah putrana Hj. Iwin nu nikah ka guru Momon...

    BalasHapus
    Balasan
    1. maksadna ibuna Hj. Iwin, namina eyang Erot.

      Hapus